Sabtu, 23 September 2017

Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar

Hai Sabat - Tafsir Mimpii apa ada bertanya-tanya tentang mimpi anda, terkadnag saat kita mengalami yang namanya mimpi kita menjadi penasaran apa yang terjadi dikemudian hari. Apalagi mimpi yang anda alami sedikit menyeramkan dan mungkin penuh dengan misteri. Nah untuk menjawab itu semua ada yang menamakanya dengan tafsir mimpi ada juga yang menamakanya dengan primbon mimpi. Namun dalam portal ini untuk mempermudah dalam tata bahasa yang mudah dipahaminya kami menulisnya dengan kata arti mimpi yang enak digengar dan bisa dipahami semua kalangan. Bicara mengenai arti mimpi apakah anda pernah mengalami mimpi Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar yang mingkin ada akan bertanya-tanya.apa ya artinya. Tapi bagi sebagian orang yang tidak menghiraukan akan mimpi mereka cuma mengaggapnya sebagai bunga tidur semata. Tanpa pedulu dengan rasa ingin tahu yang dikandungnya.

Tafsir Mimpi Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar senarnnya banyak mengandung arti didalamnya dalam ilmu Kejawen atau budaya kuno tradisi lama banyak yang menceritakan akan kandungan arti mimpi tersebut. Sebut saja Primbon mimpi jawa atau zodiak mimpi pasti kamu akan mudah untuk menemukanya.Mimpi Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar ini biasanya pernah dialami oleh sebagian orang dan mungkin bisa dikatakan pasti anda sudah pernah mengalaminya karena mimpi ini sifatnya umum. Dan maksudnya pun jelas hanya ingin menyatakan atau meberikan firast kabar mimpi dengan sang yang bermimpi. Atau sekedar mengingatkan kita.

Oke saja tanpa basi-basi dan panjang lebar tentang Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar mari kita simak penjelasanya berikut ini, semoga dengan penjelasan singkat ini kita bisa dengan mudah untuk memahaminya. Tanpa adanya maksud dan tujuan apa-apa. Yang jelas kepercayaan akan kami kembalikan sepenuhnya pada pembaca arti mimpi yang budiman. Terlepas akan kebenaranya dan kerpercayaan anda menyikapi hal ini.


LAMPUNGUPDATE.COM – Fort Rotterdam, benteng bersejarah yang dibangun oleh Kerajaan Gowa (Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi) pada 1545. Letaknya di Jalan Ujung Pandang, Kelurahan Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar.

Di dalam benteng tersebut, terdapat 16 bangunan utama. Fungsi benteng itu kala masa Kerajaan Gowa, dimaksudkan untuk memperkuat basis pertahanan. Perang melawan ekspansi VOC menjadi alasannya.

Pembangunan benteng terus disempurnakan. Pada masa Raja Gowa ke-10, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Kaliung Tunipallangga Ulaweng, peremajaan dilakukan dengan penambahan batu karang dan tanah liat pada dinding. Tujuannya untuk menambah kekuatan dinding pada benteng itu.

Dinding pada Fort Rotterdam mulanya tidak seperti saat ini. Pada masa Raja Gowa ke-14, (I Mangarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanggari Guakanna) struktur dinding diperkuat dengan susunan bata dan batu yang dibentuk persegi empat.

Dulu di sana (Fort Rotterdam) isinya rumah-rumah panggung, tiangnya kayu, dindingnya bambu dengan atap daun nipah. Ditinggali prajurit dan bangsawan Kerajaan Gowa.

Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, kata dia, benteng itu dijadikan pusat persiapan perang menghadapi tentara Belanda. Pemanfaatan gedung itu digunakan Kerajaan Gowa hingga puluhan tahun.

Sejak diambil alih oleh Belanda (1667), fungsi dari gedung tersebut digunakan sebagai kantor dan markas perang oleh Belanda. Ada juga beberapa bangunan yang difungsikan menjadi penjara bagi tahanan perang.

Sekarang, Fort Rotterdam terbilang masih terawat. Bangunan bergaya Eropa masih terjaga di dalam benteng tersebut. Benteng itu kini difungsikan sebagai salah satu objek wisata sejarah di Sulsel. Setiap harinya tak kurang dari 100 pengunjung yang datang. Bahkan bisa tiga sampai empat kali lipat jika akhir pekan.

Sementara, halaman di dalam benteng Fort Rotterdam kini dimanfaatkan sejumlah komunitas, seniman, dan budayawan untuk menggelar event atau kegiatan kesenian. Begitu juga dengan pelaksanaan konser di malam hari.

Ada satu bangunan yang dapat digunakan untuk melakukan pertemuan, diskusi ataupun seminar. Luasnya mampu menampung 100 orang lebih. Pengelola Fort Rotterdam juga menyediakan kursi dan alat pengeras suara.

Benteng Fort Rotterdam kini memang dijadikan museum. Museum La Galigo namanya, yang dikelola Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sejak 1970. Museum itu sekarang memiliki 4.567 koleksi seperti etnografika, numismatika, dan heraldika. Isinya ada seperti keramik, naskah, serta etnografi yang terdiri atas berbagai kesenian khas suku Bugis, Mandar, Toraja, dan Makassar.




Lima Bastion

Benteng Rotterdam mempunyai lima bastion dan dua pintu keluar. Pintu gerbang utama terdapat di sebelah barat benteng yang terbuat dari kayu dengan daun pintu kembar dua. Sementara itu, pintu sebelah dalam berukuran lebih kecil dengan pasak-pasak dari besi (angkur). Adapun pintu gerbang kedua merupakan pintu kecil terdapat di sebelah timur.

Bastion Bone, terletak di sebelah barat, tepatnya di bagian tengah benteng. Kemudian Bastion Bacan, terletak di sudut barat daya. Bastion Buton, terletak di sudut barat laut dan Bastion Mandarasyah, terletak di sudut timur laut. Selanjutnya, Bastion Amboina, terletak di sudut tenggara.

Tiap bastion dihubungkan dengan dinding benteng, kecuali bagian selatan yang tidak mempunyai dinding yaitu antara Bastion Bacan dan Bastion Amboina. Secara keseluruhan Benteng Rotterdam memiliki luas 2,5 hektare dan di dalam benteng terdapat 16 buah bangunan dengan luas 11.605,85 meter persegi.

Lima Tahun Dikuasai Inggris

Inggris pernah menguasai benteng Ford Rotterdam bersamaan dengan kemenangannya dalam menaklukkan Ambon dan Banda. Inggris berkuasa selama lima tahun, yakni tahun 1811-1816. Kemudian pada September 1816, Inggris menyerahkan kembali Benteng Rotterdam ke Pemerintah Hindia Belanda.

Gubernur yang bertugas pada waktu itu kemudian menjadikan benteng sebagai pusat pemerintahan, keamanan dan barak tentara. Setelah itu, baru Belanda juga mulai membangun rumah gubernur dan rumah sakit di luar lingkungan benteng.

Upaya Pelestarian

Sebagai bagian dari upaya pelestarian, terutama dalam konteks perlindungan hukum, pendaftaran sebagai bangunan yang dilindungi dilakukan sejak masa pemerintahan Hindia Belanda masih berkuasa di Indonesia. Pada 23 Mei 1940, dan pengelolaanya diserahkan kepada Yayasan Fort Rotterdam.

Penetapan ini, mengacu pada Monumenten Ordonnantie (MO) Stbl. No. 238 pada tahun 1931. Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata memperbarui status penetapan ini dengan menetapkan Benteng Ujung Pandang/Fort Rotterdam sebagai Situs Cagar Budaya dengan menggunakan dasar hukum Undang Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, dengan nomor PM.59/PW/MKP/2010 pada tanggal 22 Juni 2010.

Pada 2014, Benteng Rotterdam ditetapkan kembali sebagai Situs Cagar Budaya Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 025/M/2014, tanggal 17 Januari 2014 yang ditandatangani Mohammad Nuh. Penetapan pada tahun 2014 ini telah menggunakan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya sebagai dasar penetapannya. (*)

Judul :Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar
Link :Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar

Artikel terkait yang sama:


Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Fort Rotterdam, Benteng Kebanggaan Makassar

0 komentar:

Posting Komentar